Posts filed under 'East Java News'
Tinggal Pilih Di Food Court Level 1 BG Junction
Tak perlu jauh-jauh jika ingin mencari aneka makanan khas Surabaya. Sebab, mulai hari ini hingga 18 Mei, BG Junction menghelat Festival Masakan Khas Surabaya di food court level 1. Ada beragam sajian tradisional khas Surabaya yang bisa dinikmati. Mulai semanggi Surabaya, lontong kikil, lontong balap, lontong mi, rujak cingur, hingga bubur Madura.
Menurut Yeni Novilia, asisstant manager advertising & promotion BG Junction, festival makanan itu merupakan bagian dari even rutin bulanan. Setiap sebulan sekali, pengunjung kami suguhi beragam masakan bertema. “Temanya bergantung momen,” ujarnya. Karena Mei bertepatan dengan hari ulang tahun Surabaya, tema masakan khas Surabaya pun dipilih.
Dia menambahkan, festival makanan memang menjadi even unggulan BG Junction. Sebab, animo masyarakat terhadap acara tersebut cukup bagus. Setiap diadakan, menu makanan yang dijajakan selalu habis terjual. “Terutama saat akhir pekan. Sebelum jam tutup, banyak makanan habis duluan,” jelasnya.
Untuk even itu, BG Junction menggandeng pedagang-pedagang kaki lima yang cukup dikenal. Bubur Madura, misalnya. BG Junction mengundang pedagang bubur Madura dari Pasar Atom yang cukup dikenal. Begitu juga rujak cingur. Yang mengisi stan adalah penjual rujak cingur dari Jagiran. “Tapi, ada juga yang berasal dari tenant kami sendiri. Seperti, lontong balap dan lontong mi Gloria,” tuturnya.
Para pedagang yang diundang tersebut menempati stan-stan gerobak yang telah disediakan. Untuk memudahkan pembeli, setiap gerobak dipasangi papan petunjuk tentang informasi menu yang dijajakan. Per porsi makanan dijual mulai Rp 4 ribu-Rp 10 ribu.
Salah satu stan yang cukup diapresiasi oleh pengunjung adalah stan semanggi Surabaya. Masakanan legendaris yang terdiri atas daun semanggi rebus yang diguyur petis itu dikunjungi cukup banyak pembeli. “Lumayan, sudah laku sepuluh porsi lebih,” ucap Kunati, si peracik semanggi, ketika baru buka dua jam. Olahan semanggi Surabaya perempuan 48 tahun itu cukup nikmat. Selain bumbu petisnya memikat lidah, daun semangginya berasa berbeda. Tidak berbau langu, rasanya pun gurih.
Kunati memang mengolahnya dengan teknik khusus. Menurut dia, daun semanggi tidak sekadar direbus. “Setelah direbus, daun semanggi saya taruh di atas wajan. Lalu, saya panaskan lagi sampai airnya hilang,” jelasnya. Dengan begitu, bau langu akan lenyap bersama dengan menghilangnya uap air.
Selain menikmati makanan lezat, dihadirkan hiburan band akustik El-Quarto. Pertunjukan musik tersebut hadir kemarin (15/5) dan saat penutupan pada Minggu, 18 Mei. Festival Masakan Khas Surabaya itu dibuka mulai pukul 10.00 hingga 21.30. (ign/kum)
Source: Jawa Pos Online
May 16th, 2008
Jakarta (ANTARA News) - Culture and Tourism Minister Jero Wacik and ASEAN Secretary General Surin Pitsuwan sit side by side playing the “angklung” traditional musical bamboo instrument while looking at each other once a while and chuckling when the sound of their music is not in harmony.
Jero Wacik and Surin Pitsuwan tried to play the bamboo musical instrument from West Java in the ASEAN Best Music Show, “The Mosaic Archipelago”, at Jakarta Art Building on Tuesday night.
The event was concluded with a segment of an “Angklung Interactive” in which the guests who were ASEAN ambassadors and other foreigners each got an angklung and played together.
From the stage on the occasion, a young woman in traditional “kebaya” - woman`s blouse the front of which is pinned together - asked the the audience to play the angklung and sang the songs Kicir-kicir, I Have a Dream, and Heal the World.
Jero Wacik and Surin Pitsuwan looked chummy and played their angklung to follow the instructor on the stage.
“Let us try to play our angklung,” the culture and tourism minister told the ASEAN chief, who that night wore a black suit.
The minister said the ASEAN Best Music Show was the first of its kind in Jakarta and a similar event would also be held in other ASEAN countries in the future.
“The event will become a new history for ASEAN in its effort to strengthen the bond of friendship through a musical show. The diversities and the differences of each ASEAN member country will be the uniting power of the Association of Southeast Asian Nations,” Jero Wacik said.
He noted that the ASEAN Best Music Show was designed to introduce and promote the Association`s arts and cultural diversity to the rest of the world.
At least nine traditional dances and musical instruments from Papua, Bali, East Java, Riau, Aceh, East Kalimantan, East Nusa Tenggara, West Java, and North Sumatra, were played in the event. (*)
Source: ANTARA News
May 16th, 2008
SURABAYA - Batik memang kian memikat kawula muda. Sebab, batik tetap bisa tampil apik dengan paduan bahan-bahan kasual. Perpaduan apik tersebut terlihat dalam fashion show Batik, Bordir, dan Accessories Fair 2008 di Jatim Expo kemarin (15/5).
Sebanyak 16 stan pengusaha batik dari seluruh Indonesia turut bergabung menyajikan busana-busana batik unggulan masing-masing. Hasilnya, 64 busana batik dari beragam corak dan warna tersaji di atas panggung. Busana batik kasual, formal, hingga semiformal diperagakan sejumlah model dari Paull Models Agency.
Salah satu stan yang menyajikan busana batik kasual adalah Murni & Artis Batik. Mengandalkan bahan katun dengan corak-corak batik khas Jawa Timur, Mursidi, sang perancang, menciptakan sejumlah atasan cantik dengan model masa kini. Misalnya, atasan berwarna dominan hijau dengan corak liris. Dengan lengan balon berpadu kerah rumple, atasan sepanjang paha tersebut mengembang di bagian bawah. Atasan itu cocok dipadupadankan dengan celana jins jenis pensil.
Jika Mursidi memilih kesan kasual pada batik, Moehammad Muchsin dari Abi Batik lebih suka menyajikan busana batik semiformal dengan bahan batik yang terjangkau. Mengandalkan kain batik tulis Madura yang paling murah, Abi -sapaan akrab Moehammad Muchsin- menampilkan atasan berlengan tiga perempat berhias payet dan bordir di bagian kerah. Atasan berwarna biru tersebut menimbulkan kesan etnis nan elegan.
Dalam pameran batik tingkat nasional itu, 220 pengusaha batik, bordir, dan aksesori dari berbagai daerah di Indonesia saling memajang karya terbaik.
Menurut Susilo, ketua pelaksana, pameran yang terselenggara berkat kerja sama Disperindag dengan Asosiasi Tenun, Batik, dan Bordir (ATBB) Jawa Timur tersebut merupakan ajang untuk mempromosikan keragaman batik Indonesia kepada masyarakat. “Dengan pameran ini, kami harap usaha para perajin batik, khususnya yang berasal dari desa, bisa terbantu,” jelasnya.
Kemarin, pameran batik yang akan berlangsung hingga 18 Mei mendatang itu dibuka secara langsung oleh Gubernur Jatim Imam Utomo. Secara simbolis, Imam menorehkan tanda tangan dengan canting di atas kain mori berwarna putih polos. (ken/dos)
Source: Jawa Pos Online
May 15th, 2008
Wahyoe Boediwardhana, The Jakarta Post, Malang, East Java
A cheerful mood pervaded the Gumuk hall in Selokerto hamlet, Selorejo village in East Java’s Malang regency, on this particular Sunday.
A boisterous group of children had followed a van from the Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) to the hall, where they were greeted by a P-WEC volunteer.
Dressed as a lutung (an endangered monkey species native to Java), the volunteer danced to the music blaring from the van’s sound system.
“Come on kids, follow me. Let’s gather in the hall. Let’s read, play and watch films, all for free. Come on…” he screamed over the loudspeaker as he danced.
In the spartan hall with its earthen floor, P-WEC members laid out plastic sheets and folding tables.
About 200 books comprising 150 different titles, mostly on wildlife, were displayed on the tables, next to plywood puzzles of protected Indonesian animals.
The impatient but curious children thronged the tables and rummaged through the rows of books.
“It’s part of our responsibility to local communities. We’ve noticed a very low awareness of nature among children living near the forest because of a lack of reading material. So we came up with this mobile library,” said Yunita Suci Amalia, coordinator of the P-WEC mobile library program.
According to Yunita, the library is a social program aimed at children living on the periphery of the forest. Gumuk is only 500 meters from the forest.
She said many of these children could not afford to read quality books, in spite of their voracious curiosity.
P-WEC responded to this need by devising the mobile library in early 2007. Previously, the education center had only hosted screenings of films, particularly wildlife documentaries.
“We provide not only books but also guides who tell the children stories about nature. So they learn about nature from books and people,” said Yunita.
To set up the library, the center launched a campaign to collect used books and magazines from various donors. Some 13 institutions and several individuals contributed to this drive.
“We collect all kinds of books and periodicals, not just those about wildlife. We even have literature on motoring, agriculture, forestry and skateboarding, because many adults also join the kids whenever we visit,” she said.
To make the experience even more engaging, contests and games are organized for the children. These include story-retelling contests, puzzles and charades.
“That’s how we arouse the children’s interest and make them proud of their forest, so they’ll be more concerned about nature conservation,” said Sri Wahyuni, project manager for P-WEC, who joined the team as a children’s counselor.
However, the program’s limited facilities restrict its operations.
Currently, the mobile library focuses on five villages each month — Sumber Bendo, Petung Sewu, Kucur, Selokerto and Gumuk, all in close proximity to P-WEC.
The high interest shown by children during library calls has prompted Rosek Nursahid, chairman of environmental NGO ProFauna Indonesia, to decide to continue the program and oversee its development. P-WEC is run by ProFauna Indonesia.
“Villagers often ask us to make our visits longer. They say they can’t get enough of the books. So we intend to continue this program,” Rosek said.
Yunita also called for public involvement to help increase children’s knowledge of forests and the environment.
She said she hoped more people would contribute books to the program.
“We receive new or used books. If it’s cash, we may not have enough time to buy books, so it’s better for those wishing to donate to provide books,” she said.
Rosek also hoped the P-WEC visits would encourage communication between P-WEC and surrounding communities.
Many villagers still regard the Wildlife Rescue Center of Petung Sewu and P-WEC as exclusive agencies.
“Everybody is welcome to come here to learn about wildlife and the environment at any time,” said Rosek.
Source: The Jakarta Post
May 14th, 2008
Memeriahkan momen Surabaya Shopping Festival (SSF) 2008, Royal Plaza memanjakan pengunjung dengan berbagai cara. Selain memberikan diskon di masing-masing tenant, ada even Royal Shopping Festival.
Dalam acara yang dilaksanakan pada 5-25 Mei tersebut, pesertanya adalah tenant di Royal Plaza. Tujuannya, pengunjung lebih mudah mencari item yang dibutuhkan dan tenant lebih banyak dikunjungi masyarakat. “Kami tidak membedakan tenant yang mau bergabung. Siapa berminat bisa ikut,” kata Vicky Ratih, promotion manager Royal Plaza.
Dia menuturkan, pengunjung bisa mendapatkan barang harga spesial. Sebab, masing-masing memberikan diskon beragam sampai 50 persen. Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi. Pada minggu pertama, diadakan bazar busana muslim. “Minggu kedua pakaian kasual,” jelasnya.
Royal Shopping Festival ternyata memberikan keuntungan bagi tenant. Sebab, jumlah pengunjung dan pembeli lebih meningkat. Di Tata Shoes misalnya, mulai dibuka hingga pukul 14.00 kemarin, sudah belasan sepatu berhasil terjual. “Dengan diskon hingga 50 persen, pengunjung tidak lagi menawar. Mereka langsung beli,” tegas Ratna dari Tata Shoes.
Hal serupa dialami Ratu Fashion. “Kami memberikan diskon mulai 10-30 persen,” ujar Wuri dari Ratu Shoes. (rth/tia)
Source: Jawa Pos Online
May 13th, 2008
The domestic airline industry is becoming more competitive with PT Eka Sari Lorena Airlines (Lorena Air) soon to enter the market hit hard by increasing fuel prices.
“Indonesia has a large population and people still need to travel. There is always opportunity to build a successful (airline) business here,” Lorena Air CEO Eka Sari Lorena Surbakti said on Friday.
Lorena Air, which is a subsidiary of transportation company Lorena Group, is scheduled to fly its first two Boeing 737-300 aircraft on June 6. The company will serve the Jakarta-Surabaya route four times a day.
On June 12, the company will start serving Palembang and Pekanbaru twice a day.
“Demand for air transportation services for these routes is still high,” said Eka at the launch of Lorena Air’s ticket sales.
“The company will develop integrated transportation services,” she said.
“We offer what is called an ‘air to door’ service, where passengers can continue to travel to their destination after stepping off our plane by using our buses.”
Lorena Group is one of the country’s most well-known bus operators.
Lorena will compete head-on with national carrier Garuda Indonesia Airways. That’s the reason why the company will offer lower prices for the same services offered by Garuda, Eka said.
Lorena Air has targeted to carry 1.5 million passengers this year, focusing on the premium market.
The company will commence operations with two carriers, but will procure four more Boeing 737-300 aircraft later this year. It was supposed to fly last year, but failed to secure the necessary carriers.
CFO Michael Madrigal said the company, which now employs around 120 staff, invested over US$5 million excluding aircraft lease costs.
According to Lorena Air’s website, it has spent $30 million for the two Boeing 737-300 aircraft.
There are 16 domestic airlines serving domestic routes currently in the country. (rff)
Source: The Jakarta Post
May 12th, 2008
Meski Pamor Turun, Anthurium Tetap Laris Manis
Walaupun sudah tidak semencorong dulu, anthurium tetap memesona. Peminat tanaman hias kaya daun tersebut masih banyak. Setidaknya, itu terlihat pada Flora Surabaya Big Sale di BG Junction.
Flora Surabaya Big Sale yang dimulai 1 Mei lalu berakhir kemarin (11/5). Menurut Toni Soedarjo dari Gallery selaku pelaksana, hasil pameran yang diikuti 25 nurseri itu dinilai memuaskan. Masih banyak penghobi yang datang untuk berburu anthurium.
“Bedanya, mereka yang beli lebih banyak orang baru. Jadi, yang laku lebih banyak bibitan dibandingkan indukan anthurium,” jelasnya kemarin.
Ya, pameran yang berlangsung di Water Feature lantai GL, BG Junction, itu memang fokus pada anthurium. Jenis tanaman tersebut ditawarkan mulai gelombang cinta (wave of love), jemanii, hingga hookeri, lengkap dengan berbagai varian. Tak tertinggal, jenis lain seperti anthurium sirih, superboom, dan garuda hitam.
Menurut Toni, pengunjung yang datang ke pameran flora itu bukan hanya penghobi tanaman hias. Mengingat, kebanyakan nurseri yang menjadi peserta pameran merupakan “petani” di daerahnya sekaligus pedagang bunga yang datang dari sekitar Surabaya untuk berkulakan.
“Masing-masing stan melaporkan hasil penjualan cukup banyak. Bahkan, ada satu stan yang laku ber-troy-troy sekaligus dalam sehari,” katanya.
Satu troy berisi 50 bibit anthurium. Artinya, jika tiga troy, ada sekitar 150 bibit yang terjual.
Penjualan yang lumayan tersebut diakui Prayogi dari Sekar Jagad Indonesia Nursery. Pengusaha tanaman hias asal Singosari, Malang, itu mengungkapkan, mulai hari pertama hingga siang kemarin, dirinya sukses menjual 100 bibit anthurium jemanii. Anthurium garuda hitam medium koleksi nurseri itu juga diborong pembeli. Termasuk, anthurium superboom yang sukses terjual Rp 2 juta. “Nce Pectos koleksi kami juga terjual. Harga banderolnya Rp 3 juta,” ungkapnya.
Pada pameran yang diikuti berbagai nurseri dari Blitar, Batu, Malang, Sidoarjo, Pasuaruan, Jember, dan Surabaya tersebut juga diadakan sesi lelang pada 7, 8, dan 9 Mei. Dari tiga hari lelang tersebut, beberapa anthurium jenis hookeri sukses meraih harga lelang tertinggi. Masing-masing Rp 3,5 juta dan Rp 7,5 juta. “Artinya, peminat anthurium memang masih banyak,” tegasnya.
Mengenai anthurium, kata Toni, pesonanya memang tak semencorong tiga bulan lalu. Tak heran, harga jual tanaman berdaun indah itu cenderung turun. Anthurium indukan jenis jemanii, misalnya. Tiga bulan lalu, jenis tersebut bisa dijajakan Rp 100 juta-Rp 300 juta. Sekarang, harga pasarannnya Rp 25 juta-Rp 150 juta.
Bibitan gelombang cinta juga sama. Sekarang, harga jualnya Rp 10 ribu-Rp 15 ribu. Padahal, dulu bisa melejit Rp 30 ribu-Rp 50 ribu sebuah. Meski demikian, alih-alih turun, Toni lebih sreg menyebut harga antutrium saat ini kembali normal. “Kalau dipikir-pikir, dulu sebelum booming, harganya juga segitu,” jelasnya. (ign/tia)
Source: Jawa Pos Online
May 12th, 2008
SURABAYA - Makin banyak kelompok masyarakat yang peduli terhadap perkembangan Kampoeng Ilmu, sentra PKL buku bekas di Jalan Semarang Nomor 55. Misalnya, para dosen UK Petra dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Pimpinan Pusat Olahraga Seni dan Barongsai Indonesia (Persobarin), serta ketua tempat ibadah Jawa Timur.
Ketiga elemen Jawa Timur itu mengaku berempati terhadap perjuangan para PKL buku bekas dalam menghidupkan sentra perdagangan buku murah. Lantas, dibentuklah panitia pengembangan program-program Kampoeng Ilmu. Ditunjuk sebagai ketua panitia adalah Sidharta Adhimulya. Dia mengatakan, keinginan mengembangkan Kampoeng Ilmu berawal dari keluh kesah para pedagang. “Kami ini kan kebetulan langganan mereka. Para PKL curhat ke kami. Katanya, sejak relokasi ini, omzet mereka turun. Mereka berinisiatif jualan pada malam juga. Lantas, kami bantu untuk listriknya,” paparnya.
Nanti, jelas Sidharta, Kampoeng Ilmu tak sekadar tempat perdagangan buku bekas. Namun, juga mengusung misi mengajak masyarakat untuk menyukai membaca. “Kami ingin tempat ini menjadi wisata pendidikan,” ujarnya. Beberapa program penting sudah disiapkan. Antara lain, kursus membaca gratis, diskusi, pelatihan, seminar, bedah buku, dan taman baca. Di bidang sosial, para PKL diajak mengembangkan sarana olahraga, pengobatan gratis, dan membangun pendapa serbaguna. “Kami juga ingin tempat ini dapat menggerakkan roda perekonomian. Praktis, meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah, Red),” ujarnya.
Lebih lanjut, Sidharta menjelaskan, pelanggan PKL buku bekas tak hanya berasal dari Surabaya. Banyak juga para pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia Timur. “PKL buku bekas ini terbesar di Jawa Timur. Karena itu, kita harus bangga dan ikut mengembangkannya,” ujarnya.
Kegiatan wisata pendidikan, seperti galeri seni rupa, pengajian umum, dan pentas seni, juga bakal diadakan. Karena itu, kata Budi Santoso, salah seorang PKL, saat ini mereka sedang membangun pendapa. “Anggarannya swadaya kita sendiri. Pendapa itu akan digunakan untuk berbagai acara,” tuturnya. Budi merasa senang lantaran berbagai pihak turut membantu perkembangan Kampoeng Ilmu. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pemkot yang sudah menyediakan lahan relokasi ini,” katanya.
Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra Rully Damayanti juga bakal membantu perencanaan dan penataan ruang di Kampoeng Ilmu. Kemarin (8/5) mereka meninjau lokasi tersebut. “Tempat ini benar-benar berpotensi untuk dikembangkan,” tuturnya. (kit/oni)
Source: Jawa Pos Online
May 9th, 2008
Ada banyak cara yang dilakukan untuk merayakan Surabaya Shopping Festival (SSF) 2008. Di Mercure Grand Mirama Surabaya dilaksanakan serangkaian acara. Di antaranya Surabaya Food Festival, Pameran Batik dan Handicraft, serta pameran lukisan “Soerabaja Tempo Doeloe dan Kini”. Seluruh acara tersebut digelar selama Mei 2008.
Di pameran batik dan handicraft yang digelar di Coffee Café, Lobby Level, menyediakan berbagai kerajinan tangan. Mulai dari patung, mangkuk, serta pigura yang terbuat dari kayu. Selain itu, pameran tersebut juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk berkreasi. Syaratnya, cukup membayar Rp 25 ribu.
“Pengunjung bisa belajar seni membatik pada sapu tangan yang telah disediakan, kemudian bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan,” kata General Manager Hotel Mercure Grand Mirama, Neil GOW.
Tidak hanya itu, disediakan juga peralatan batik komplit. Untuk mendapatkannya, pengunjung cukup membayar Rp 275 ribu. Peralatan tersebut di antaranya kompor, wajan, canting, saringan malam, malam, sarung tangan, serta pewarna batik.
Selain pameran batik dan handicraft, dilaksanakan juga acara lainnya. Yaitu Surabaya Food Festival. Di acara tersebut disediakan berbagai jenis hidangan khas Surabaya. Pilihan hidangan utama di antaranya nasi krengsengan kambing, lontong kikil, nasi rawon buntut, lontong balap, lontong semanggi, nasi atau lontong sate kelapa, rujak cingur, lontong soto mie, tahu campur, dan nasi asem-asem bandeng. Hidangan penutupnya juga beragam. Mulai dari es degan, es cendol dan es cincau.
Bagi pecinta lukisan, bisa menyaksikan pameran lukisan “Soerabaja Tempo Doeloe dan Kini” di Trimurti Lounge, Lobby Level. “Dalam pameran tersebut kami bekerjasama dengan KPJT (Komunitas Pelukis Jawa Timur),” kata Neil.(rth/kum)
Source: Jawa Pos Online
May 9th, 2008
Pedagang dari Luar Surabaya Serbu Harga Hemat
Seiring pelaksanaan Surabaya Shopping Festival (SSF) 2008, ITC Surabaya Mega Grosir kembali mengadakan Wisata Kulakan. Kali ini, 160 pedagang dari Blitar, Tuban, dan Batu diberi kesempatan belanja besar di pusat belanja grosir tersebut.
“Mereka kami undang dari kota masing-masing dan kami fasilitasi untuk datang ke sini,” jelas Bram Elyanis, promotion department ITC Surabaya Mega Grosir.
Pada acara tersebut, para pedagang dari berbagai pasar tradisional itu memiliki waktu belanja sepuasnya di seluruh tenant ITC. Hanya, waktu yang diberikan terbatas tiga jam. “Supaya tidak repot, pedagang bisa memanfaatkan jasa portir yang kami sediakan secara gratis,” katanya.
Kebanyakan peserta memanfaatkan momen belanja grosir itu untuk memborong item fashion. Misalnya, Syifa. Pedagang asal Batu, Malang, tersebut berancang-ancang memborong aneka baju dewasa, anak, remaja, baju muslim, hingga perlengkapan bayi. Banyak betul? “Saya punya dua toko di Pasar Batu. Barang jualannya baju dan perlengkapan bayi,” jelas pemilik toko Bang Hadi tersebut.
Hal serupa dilakukan Umi Masyitoh. Jauh-jauh dari Blitar, wanita 32 tahun sudah berniat kulakan bahan-bahan garmen. “Saya senang, di sini harganya lebih murah dibandingkan tempat saya biasa kulakan. Makanya, saya juga berniat belanja banyak,” ujar wanita yang menyediakan Rp 5 juta untuk kulakan hari itu.
Tak melulu pakaian, ada pula pedagang yang berburu perlengkapan toko. Misalnya, Hj Sumi. Pedagang Pasar Baru Tuban tersebut memborong setengah lusin mannequin. “Kebetulan, saya dapat harga murah. Sekalian beli banyak,” katanya lantas tersenyum.
Mannequin itu dibeli seharga Rp 24 ribu per buah. Menurut dia, itu lebih murah. Sebab, di tempat lain, item tersebut dijual Rp 30 ribu per buah. Tidak belanja baju? “Belanja juga. Tapi, tidak banyak. Koleksi di kios saya masih banyak. Beli beberapa saja,” ungkap Sumi yang hanya menyiapkan dana Rp 1 juta tersebut.
Tidak sekadar memberikan kesempatan belanja murah, 10 pedagang dengan pembelian terbanyak berkesempatan mendapatkan hadiah. Mulai setrika, magic com, hingga kipas angin. “Karena itu, struk belanja dari masing-masing pedagang dikumpulkan. Dari situ, akan diketahui 10 orang yang berhak mendapatkan hadiah,” kata Bram.
Selama SSF 2008, Wisata Kulakan dilaksanakan rutin seminggu sekali setiap Rabu. “Bila ada pedagang yang berminat, koordinator pasar bisa mengajukan surat permohonan kepada manajemen ITC Surabaya Mega Grosir. Setelah itu, kami akan menyurvei,” jelasnya. (ign/tia)
Source: Jawa Pos Online
May 8th, 2008
Previous Posts