Archive for May 12th, 2008

Lorena Air to start flying Jakarta-Surabaya in June

The domestic airline industry is becoming more competitive with PT Eka Sari Lorena Airlines (Lorena Air) soon to enter the market hit hard by increasing fuel prices.

“Indonesia has a large population and people still need to travel. There is always opportunity to build a successful (airline) business here,” Lorena Air CEO Eka Sari Lorena Surbakti said on Friday.

Lorena Air, which is a subsidiary of transportation company Lorena Group, is scheduled to fly its first two Boeing 737-300 aircraft on June 6. The company will serve the Jakarta-Surabaya route four times a day.

On June 12, the company will start serving Palembang and Pekanbaru twice a day.

“Demand for air transportation services for these routes is still high,” said Eka at the launch of Lorena Air’s ticket sales.

“The company will develop integrated transportation services,” she said.

“We offer what is called an ‘air to door’ service, where passengers can continue to travel to their destination after stepping off our plane by using our buses.”

Lorena Group is one of the country’s most well-known bus operators.

Lorena will compete head-on with national carrier Garuda Indonesia Airways. That’s the reason why the company will offer lower prices for the same services offered by Garuda, Eka said.

Lorena Air has targeted to carry 1.5 million passengers this year, focusing on the premium market.

The company will commence operations with two carriers, but will procure four more Boeing 737-300 aircraft later this year. It was supposed to fly last year, but failed to secure the necessary carriers.

CFO Michael Madrigal said the company, which now employs around 120 staff, invested over US$5 million excluding aircraft lease costs.

According to Lorena Air’s website, it has spent $30 million for the two Boeing 737-300 aircraft.

There are 16 domestic airlines serving domestic routes currently in the country. (rff)

Source: The Jakarta Post

Add comment May 12th, 2008

Dari Pameran Flora Surabaya Big Sale BG Junction

Meski Pamor Turun, Anthurium Tetap Laris Manis
Walaupun sudah tidak semencorong dulu, anthurium tetap memesona. Peminat tanaman hias kaya daun tersebut masih banyak. Setidaknya, itu terlihat pada Flora Surabaya Big Sale di BG Junction.

Flora Surabaya Big Sale yang dimulai 1 Mei lalu berakhir kemarin (11/5). Menurut Toni Soedarjo dari Gallery selaku pelaksana, hasil pameran yang diikuti 25 nurseri itu dinilai memuaskan. Masih banyak penghobi yang datang untuk berburu anthurium.

“Bedanya, mereka yang beli lebih banyak orang baru. Jadi, yang laku lebih banyak bibitan dibandingkan indukan anthurium,” jelasnya kemarin.

Ya, pameran yang berlangsung di Water Feature lantai GL, BG Junction, itu memang fokus pada anthurium. Jenis tanaman tersebut ditawarkan mulai gelombang cinta (wave of love), jemanii, hingga hookeri, lengkap dengan berbagai varian. Tak tertinggal, jenis lain seperti anthurium sirih, superboom, dan garuda hitam.

Menurut Toni, pengunjung yang datang ke pameran flora itu bukan hanya penghobi tanaman hias. Mengingat, kebanyakan nurseri yang menjadi peserta pameran merupakan “petani” di daerahnya sekaligus pedagang bunga yang datang dari sekitar Surabaya untuk berkulakan.

“Masing-masing stan melaporkan hasil penjualan cukup banyak. Bahkan, ada satu stan yang laku ber-troy-troy sekaligus dalam sehari,” katanya.

Satu troy berisi 50 bibit anthurium. Artinya, jika tiga troy, ada sekitar 150 bibit yang terjual.

Penjualan yang lumayan tersebut diakui Prayogi dari Sekar Jagad Indonesia Nursery. Pengusaha tanaman hias asal Singosari, Malang, itu mengungkapkan, mulai hari pertama hingga siang kemarin, dirinya sukses menjual 100 bibit anthurium jemanii. Anthurium garuda hitam medium koleksi nurseri itu juga diborong pembeli. Termasuk, anthurium superboom yang sukses terjual Rp 2 juta. “Nce Pectos koleksi kami juga terjual. Harga banderolnya Rp 3 juta,” ungkapnya.

Pada pameran yang diikuti berbagai nurseri dari Blitar, Batu, Malang, Sidoarjo, Pasuaruan, Jember, dan Surabaya tersebut juga diadakan sesi lelang pada 7, 8, dan 9 Mei. Dari tiga hari lelang tersebut, beberapa anthurium jenis hookeri sukses meraih harga lelang tertinggi. Masing-masing Rp 3,5 juta dan Rp 7,5 juta. “Artinya, peminat anthurium memang masih banyak,” tegasnya.

Mengenai anthurium, kata Toni, pesonanya memang tak semencorong tiga bulan lalu. Tak heran, harga jual tanaman berdaun indah itu cenderung turun. Anthurium indukan jenis jemanii, misalnya. Tiga bulan lalu, jenis tersebut bisa dijajakan Rp 100 juta-Rp 300 juta. Sekarang, harga pasarannnya Rp 25 juta-Rp 150 juta.

Bibitan gelombang cinta juga sama. Sekarang, harga jualnya Rp 10 ribu-Rp 15 ribu. Padahal, dulu bisa melejit Rp 30 ribu-Rp 50 ribu sebuah. Meski demikian, alih-alih turun, Toni lebih sreg menyebut harga antutrium saat ini kembali normal. “Kalau dipikir-pikir, dulu sebelum booming, harganya juga segitu,” jelasnya. (ign/tia)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 12th, 2008


Calendar

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Posts by Month

Posts by Category