Archive for May, 2008

Mulai Sulaman Brokat sampai Papan Catur

SURABAYA - Para perancang muda dari sekolah mode dan fashion tampil dalam Surabaya Fashion Parade 2008 di atrium Tunjungan Plaza kemarin. Selain itu, perancang busana ternama Indonesia, Ramli, juga menyajikan sejumlah koleksinya.

Sekitar 70 ragam busana hasil karya siswa sekolah-sekolah mode di metropolis menyemarakkan panggung utama. Antara lain Gaun tanpa Jahitan dari Bunka School of Fashion, Urban Composition dari LaSalle College Int’l, sejumlah kreasi gaun pesta dari Susan Budihardjo Fashion School, dan Arva School of Fashion.

Keragaman tema dan kreasi itu mencerminkan karakter dan keunikan masing-masing perancang. Misalnya, Siaouw Lung, alumnus Susan Budihardjo Fashion School. Mengusung tema square of chest, pria 21 tahun itu menampilkan dua gaun pesta bernuansa broken white dan hitam. Gaun berpotongan long dress dan sackdress itu mengandalkan sulaman brokat sebagai aksen. Bahkan, pada sackdress sepanjang 7/8 tersebut, Siauw Lung menyajikan tampilan bak papan catur dari bahan chiffon yang dianyam.

Berbeda dengan karya Stephanie Dannies. Meski nuansa warna gaun nyaris serupa dengan rancangan Siauw Lung, perancang 25 tahun yang juga dari Susan Budihardjo Fashion School itu, menampilkan nuansa dualism pada ketiga gaunnya yang berbahan duchess. ”Saya terinspirasi dari warna hitam putih komik,” ujarnya. Mengandalkan aksesoris bordir, Stephanie mengaplikasikan gambar malaikat pada gaun-gaunnya.

Selain peragaan busana dari para perancang muda itu, hadir sang maestro busana Indonesia, Ramli. Perancang 58 tahun itu menampilkan 30 karyanya dalam dua sesi. Diperagakan oleh 15 model ibukota, Ramli menyajikan atasan-atasan formal seperti kebaya, blus, dan kemeja. Semuanya dipadu dengan bawahan berbahan sarung.

Pada sesi kedua, perancang berdarah Sunda-Betawi tersebut menyajikan 15 busana bernuansa hitam mulai rok, celana, blus hingga sackdress. Juga, gaun hitam berbentuk babydoll dari bahan chiffon dengan bagian bawah asimetris.

Di tempat yang sama, juga digelar final pemilihan Model Indonesia 2008 tingkat Jawa Timur. Kegiatan tahunan itu merupakan gawe Ramli. ”Ajang semacam ini bertujuan memberikan kesempatan kepada para pendatang baru di dunia model. Terutama di berbagai daerah di Indonesia agar mendapat kesempatan berkarir menjadi model profesional di Jakarta,” jelas perancang yang terkenal dengan aksen bordir pada setiap gaunnya itu. (ken/cfu)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 30th, 2008

Java’s Lusi volcano ‘on the verge of collapse’

A mud volcano, which began erupting two years ago on the Indonesian island of Java, forcing thousands of people to flee their homes, could be on the verge of collapse, British scientists have found.

The Lusi volcano has displaced 50,000 people, submerged homes, factories and schools and is flowing at a rate of more than 3.5 million cubic feet a day.

Despite efforts to halt the flow, including dropping giant concrete balls into the crater, the hot, noxious grey mud continues to spurt from the site in Sidoardjo, East Java.

Many believe gas drilling caused the phenomenon, which began two days after an earthquake in May, 2006. The government has ordered the drilling firm to pay compensation.

But research by Durham University and the Bandung Institute of Technology has found the volcano is collapsing and could subside to depths of more than 460 ft.

Inflammable gas had begun escaping from the ground, threatening those who have so far escaped the mud.

Source: http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/asia/indonesia/

Add comment May 30th, 2008

Promosi Wisata dalam Bingkai

PEMERINTAH dinilai kurang gereget dalam mempromosikan program Visit Indonesia Year 2008. Selain hal tersebut tidak bergaung, sosialisasi untuk menarik wisatawan mancanegara juga minim. Itu direspons tiga pelukis kawakan Surabaya dengan mengadakan pameran bersama.

Mereka adalah Nono Karyono, Harsojo, dan Irawan Kaot. Tiga perupa Surabaya tersebut sejak kemarin (26/5) menggelar 30 karya terbaiknya di Hotel Novotel Surabaya. Pameran yang berlangsung hingga 5 Juni itu bertema Pesona Alam dan Budaya Jatim 2.

“Ini upaya kami untuk ikut mempromosikan seni dan budaya Jatim kepada masyarakat, khususnya wisatawan,” kata Nono kemarin. Menurut dia, lukisan yang menggambarkan secuil kebudayaan diharapkan membuka cakrawala budaya Jatim.

Nuansa pengenalan budaya Jatim dalam pameran tersebut kentara. Salah satunya adalah lukisan karya Nono yang berjudul Karapan Sapi. Lukisan 90 x 60 cm itu menggambarkan seseorang sedang memacu sapinya.

Kaot menampilkan gambaran budaya Jatim yang mayoritas masyarakatnya berpencaharian petani. Hal tersebut digambarkan dengan tiga ibu yang sedang menumbuk padi di atas sebuah lesung. Tidak jauh dari mereka, terlihat anak-anak mereka yang bertelanjang dada sedang bermain.

Sedangkan Harsojo menonjol dengan lukisan yang berjudul Persiapan di Pagi Hari.(eko/dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 29th, 2008

Mud volcano may collapse

Indonesia’s disastrous mud volcano is collapsing on itself, according to new research released on the second anniversary of the ever-growing environmental catastrophe.

Each day, 100,000 cubic metres of hot, stinking sludge continues to ooze from the mystifying mud volcano, which burst through the earth two years ago during deep drilling at a nearby exploratory well, linked to Indonesia’s richest man and also part-owned by Australian company Santos.

The grey-brown ooze now covers seven square kilometres in heavily populated East Java.

It has swallowed 11 villages, including thousands of homes, businesses, paddy fields and mosques.

Now a new report warns the bleak, sodden landscape is sinking - and could subside by as much as 146 metres over the coming years.

It has subsided four centimetres each day for more than a year due to the sheer weight of the mud, and the collapse of a layer of rock as mud gushes from beneath it, says the report, by Durham University UK and Indonesia’s Institute of Technology Bandung.

But there also have been sudden collapses of up to three metres in some areas.

Scientists warn that as it sinks, new faults are forming, allowing water to spurt to the surface in previously unaffected
areas.

Co-author Professor Richard Davies said the sudden collapses indicated the beginnings of a caldera, or large crater formed by the subsidence of the volcano’s cone.

“The most negative effects of the collapse are that new faults are forming,” Davies said.

“This is allowing new conduits of fluid and gas to come to the surface.

“Outside the mud volcano there are actually new vents forming, water is suddenly spurting to the surface.

“Basically the mud volcano has a life of its own now.”

He hoped future research would focus on how long the mud volcano would continue to spew sludge.

“I suspect it will carry on in some form, even at very slow rates of eruption, probably for decades,” he said.

“The mud volcano was initially man-made, but now its a huge system that is effectively natural - it’s formed its own natural plumbing system and I don’t think there is any feasible way of stopping it now.”

A study by Durham University last year found the mud eruption was “almost certainly man-made”, and caused by the exploratory drilling.

But the well’s operator Lapindo - linked to the powerful family of Indonesia’s Public Welfare Minister Aburizal Bakrie - has long argued it was a natural disaster, a claim backed by a Jakarta court ruling last year.

Those closest to the disaster, refugees sheltering in a former market in nearby Porong, will mark the two-year anniversary with an early morning prayer at the mud site Thursday.

Many are yet to receive any compensation.

“I’m still living in the refugee camp of Pasar Baru,” says 31-year-old Siti Mukaidah, whose house was buried by mud in Renokenongo village.

“I haven’t received any (money), not even money for rent.

“It is now the commemoration of two years of the flow, so we will gather to pray at the mud dam.”
Source: AAP
http://tvnz.co.nz/

Add comment May 28th, 2008

Bangkitkan Gairah Budaya dengan Festival Nusantara

SURABAYA - Siapa bisa merasa sayang jika kenal saja tidak? Memiliki anggapan seperti itu Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menggelar Festival Nusantara 2008. Pada acara yang dibuka mulai hari ini di Ballroom PTC itu publik Surabaya akan disuguhi pertunjukan seni dari 12 provinsi. Di antaranya Jawa Barat, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. Selain itu, 38 kabupaten/kota se-Jatim turut mengirimkan wakilnya.

Menurut ketua DKJT Achmad Fauzi, ketegangan antarsuku di Indonesia bisa dicegah dengan saling memperkenalkan kesenian setiap daerah sejak dini. Karena itulah, peserta FN didominasi anak-anak. “Kami ingin menguatkan ketahanan budaya untuk meminimalkan konflik,” kata Fauzi.

Kemarin giliran kontingen Kalimantan Timur (Kaltim) datang melalui Bandara Juanda Surabaya. Begitu menginjak metropolis mereka disambut grup kesenian tradisional Madura. Pertunjukan musik daul (perkusi) dipersembahkan kelompok musik Ojo’ Ngono. Grup beranggota siswa-siswi SD dan SMP di Pamekasan itu membawakan lagu Karapan Sapi dan Surabaya.

Meski tidak memahami syair lagu yang dibawakan dalam bahasa Madura itu, kontingen Kaltim terlihat senang. Mereka larut membawakan tarian Jepin yang asli Kutai untuk mengiringi kedua lagu tersebut. Sesekali penabuh musik asal Pamekasan meminta salah satu peserta tim tamu itu untuk ikut menabuh.

Selain tarian, kata Fauzi, pada festival yang ditutup besok (28/5) itu para kontingen akan memamerkan karya dalam rupa audio visual dan foto. Workshop dan diskusi mengenai kesenian Nusantara juga melengkapi festival tahunan itu. “Dengan acara ini, kami ingin membangkitkan lagi gairah budaya Nusantara,” ucap Fauzi. (eko/ayi)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 27th, 2008

Kampoeng Ilmu Jadi Ikon Wisata Pendidikan

Dilengkapi Perpustakaan, Ruang Seni, hingga Kafetaria
SURABAYA - Kepedulian berbagai kalangan terhadap pengembangan Kampoeng Ilmu -sentra PKL buku- menggugah pemkot untuk segera membangun tempat tersebut. Sekarang detail engineering design (DED) Kampoeng Ilmu tengah dimatangkan Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko).

Kepala Bappeko Tri Rismaharini mengatakan, sentra PKL buku bekas tersebut menjadi prioritas instansinya. Sebab, pemkot menyadari bahwa pembeli buku bekas di tempat itu terdiri atas berbagai kalangan. “Sayang kalau pengelolaannya seperti itu. Karena itu, kami terus mematangkan desain tempat,” ujarnya. Untuk desain tempat, pemkot mendapat bantuan dari para desainer muda Surabaya. “Mereka sangat kreatif dan ide-idenya baru,” tuturnya.

Apalagi, kata Risma, para PKL buku bekas berencana menjadikan tempat tersebut sebagai wisata pendidikan. Berbagai fasilitas penunjang pun harus disediakan. Misalnya, perpustakaan, ruang belajar terbuka atau ruang serbaguna, ruang seni, ruang administrasi, kafetaria, dan area parkir. “Kami menyediakan ruang terbuka dan kafetaria supaya para pengunjung bisa menikmati buku bacaan sambil bersantai dan kongko-kongko. Membaca buku tak harus di perpustakaan, meski ada sebagian orang yang senang membaca di perpus,” jelasnya.

Apalagi, kata Risma, saat ini minat membaca masyarakat Surabaya sedang menggeliat. Itu bisa dilihat dari jumlah pengunjung di perpustakaan Surabaya. Hanya, lantaran jumlah perpus di Surabaya sangat terbatas, warga kota belum memiliki sebuah tempat wisata bacaan yang dinilai menyenangkan. “Karena itu, konsep Kampoeng Ilmu akan kami bikin menyenangkan, jauh dari kesan formalitas,” tutur alumnus ITS itu.

Jika DED sudah selesai, penggarapan bangunan Kampoeng Ilmu bisa segera dimulai. “Anggarannya, kami usahakan melalui PAK (perubahan anggaran keuangan, Red),” jelasnya. Saat ini ada 56 PKL di Kampoeng Ilmu. Bakal ada penambahan PKL di tempat itu. Total, Kampoeng Ilmu akan menampung 113 PKL. “Untuk kios PKL, kami akan bikin secantik-cantiknya,” ujarnya. Dengan demikian, warga kota diharapkan memiliki tempat bacaan yang murah. (kit/dos)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 26th, 2008

Tour de Kampoeng untuk Tambah Ilmu

Mahasiswa UK Petra punya kegiatan menarik Minggu kemarin. Sekitar 50 mahasiswa berkeliling kampung yang memiliki kekhasan tertentu. Mulai kampung jajanan khas, kampung kota lama, hingga kampung anggrek. Tak sekadar jalan-jalan, mereka sekaligus menambah wawasan.

Kali pertama para mahasiswa bertandang ke Jalan Keputran Panjunan. Mereka menyaksikan kampung jajan. Satu kawasan penghuni di kampung itu mempunyai pekerjaan sampingan yang sama, yakni produsen jajan pasar.

Namun, karena lokasinya sempit, mereka tak bisa langsung menyaksikan pembuatan aneka ragam jajanan. “Kami bisa putarkan video,” jelas Penanggung Jawab Tour de Kampoeng UK Petra Monica Ida Uniati kemarin.

Dari kampung jajan, para mahasiswa diajak melawat ke Kampung Bubutan. Di sana mereka menyaksikan kehidupan warga Surabaya asli. Di kampung ini terdapat sisa-sisa Surabaya yang berdiri pada 1365. Nama Bubutan berasal dari kata, butotan yang berarti pintu gerbang.

Tak sekadar berwisata sejarah. Mereka juga mengamati arsitektur bangunan rumah-rumah di kampung lama itu. “Usianya sudah ratusan tahun dan tak banyak berubah. Rumah di kampung itu punya arsitektur khas,” kata Monica.

Untuk mengamati perkembangan arsitektur, para mahasiswa juga menyaksikan Kampung Kungfu di Jalan Kapasan 2. Sebutan itu dilatarbelakangi tinggalnya seorang jagoan kungfu di kampung tersebut.

Monica juga mengajak rombongan menikmati Kampung Anggrek di Jalan Kertajaya IV C. Di tempat itu, bunga anggrek menjadi tanaman wajib. Pemandangan perkampungan itu pun menjadi tampak sangat asri dan artistik.(git/hud)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 26th, 2008

Indonesia Raises Alert For Volcano On Java Island

The heat clouds slid three kilometres from the crater but no evacuation is needed because people live quite far from the crater.
Indonesia has raised the alert level of one of the most active volcanoes on Java, a volcanology official said on Thursday.

The volcanology agency in Bandung raised the alert on Semeru mountain near Malang in East Java late on Wednesday after it shot out some 500-800 degree Celsius clouds, the official said.

“The heat clouds slid three kilometres from the crater but no evacuation is needed because people live quite far from the crater,” Surono, head of the agency, said.

People have been told to stay at least four kilometres from the 3,676 metre-high mountain, which is also popular among hikers. Seven people were killed from the mountain’s heat clouds in 1994.

The volcanic dust from Semeru has not yet disturbed flights in the nearest town of Surabaya because it is only 600 metres from the mountain’s top.

Mt. Semeru is the highest mountain on Java and one of the highest in Indonesia. It is also one of the most active volcanoes in Indonesia, belching clouds and steam just about every day.

Indonesia has the nighest number of active volcanoes of any country, sitting on a belt of intense seismic activity known as the “Pacific Ring of Fire”.

People often live and farm on the slopes of volcanoes because of the rich volcanic soil.

Source: http://www.javno.com/

Add comment May 23rd, 2008

Indonesia raises alert level for Java volcano

Indonesia’s vulcanology office has raised the alert level on the tallest volcano on Java after it ejected heat clouds down its slopes.

The alert level of Mount Semeru has been lifted to “be prepared” — two levels below eruption.

An observer on the slopes says the volcano has ejected heat clouds six times and the longest was 3,000 metres long.

He says that activity at the 3,676-metre high volcano in East Java isn’t considered dangerous as only one volcanic earthquake has been registered and the nearest village is 10 kilometres away.

Source: http://www.radioaustralia.net.au/

Add comment May 23rd, 2008

Susahnya Melestarikan Cagar Budaya


OLEH: ARIF PRIBADI

Penyiar radio Suara Mitra Surabaya
Sedih rasanya, ketika mendengar bangunan bersejarah sekelas Ndalem Gebang yang merupakan rumah masa kecil Bung Karno, akan dijual oleh ahli warisnya. Menurut pemilik Ndalem Gebang, persoalan dana dan perawatan menjadi alasan terbesar kenapa mereka berniat menjual aset bersejarah tersebut.

Kasus penjualan cagar budaya seperti ini mengingatkan saya pada Surabaya yang memiliki ratusan cagar budaya, namun nasibnya sama atau bahkan lebih menyedihkan dari Ndalem Gebang. Padahal, jika kita mempertanyakan aturan hukum yang mengatur tentang pelestarian cagar budaya, pemerintah memiliki UU 5/1992 tentang Cagar Budaya, Perda 5/2005 tentang Pelestarian Bangunan dan Situs Cagar Budaya serta Surat Keputusan Wali Kota Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 tentang Penetapan Cagar Budaya di Wilayah Surabaya. Artinya, dengan pijakan hukum selengkap ini, kita tidak perlu sampai harus kehilangan lokasi-lokasi bersejarah di kota ini.

Namun, pijakan hukum tertulis tersebut, tidak ada satu pun yang mengatur soal pendanaan. Perda 5/2005 contohnya, hanya mengatur agar bangunan tidak dirobohkan atau diubah bentuk aslinya. Sementara soal fungsi bangunan, dapat diubah sesuai keinginan pemiliknya. Sedangkan masalah pendanaan yang jadi problem terbesar dalam pelestarian cagar budaya, tidak disentuh sama sekali.

Seandainya saya merupakan pemilik rumah yang bangunannya masuk sebagai cagar budaya, tentu akan merasa sangat rugi. Pasalnya, mengubah bentuk bangunan dilarang keras, namun tidak ada uang yang dialirkan untuk merawat bentuk asli bangunan tersebut. Belum lagi jika saya harus menambah bangunan lagi, bentuknya harus disesuaikan dengan gedung yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Repot bukan?

Alangkah senangnya perasaan saya, jika tiba-tiba ada pegawai pemkot yang datang kerumah saya kemudian mengatakan: “Mas, selama dua minggu saya akan merenovasi rumah Anda, agar kondisi rumah yang sudah masuk kategori cagar budaya ini, tetap terawat dan enak dipandang.”

Selama ini, masyarakat (atau pemilik bangunan cagar budaya) hanya “dibebani” untuk mempertahankan keaslian cagar budaya yang dimiliki. Padahal proses menjaga dan merawat itu, bukan hanya mengorbankan perasaan (karena pasti ada keinginan pemilik untuk merombak) juga mengorbankan dana. Andai saja ada sedikit dana yang dikucurkan untuk perawatan bangunan-bangunan yang sudah masuk dalam kategori cagar budaya, maka keasliannya pasti akan tetap terjaga.

Tidak gampang memang merealisasi hal seperti ini. Tapi yang bisa dijadikan pijakan pembangunan oleh pemkot, kedepan pelestarian banguanan cagar budaya itu akan menghasilkan uang. Namun tetap ada syaratnya: Jangan mengkomersialkan terlalu berlebihan dan jangan minim sosialisasi. Pembangunan Tugu Pahlawan yang sepi pengunjung adalah faktanya.

Bertepatan dengan hari jadi Kota Surabaya ke-715, banyak program yang digulirkan pemkot untuk memanjakan warganya, misalnya pawai budaya, jalan sehat, sampai hias kota. Dan menurut saya, kesempatan berkumpulnya warga Surabaya ini, bisa dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi keindahan arsitektur Cagar Budaya. Pawai budaya yang selalu digelar dengan bentuk arak-arakan, bisa diubah rutenya. Jika selama ini, rute yang digunakan mulai Tugu Pahlawan bermuara ke Balai Kota, maka rutenya bisa dialihkan mengelilingi Surabaya Utara, dan finish di Tugu Pahlawan. Atau paling tidak, rutenya bisa dibuat seperti napak tilas perjuagan 10 Nopermber 1945, seperti ketika arek-arek Suroboyo, berjuang melawan Sekutu.

Fakta menyebutkan, Venesia selain terkenal karena Gondolanya, juga tersohor karena bangunan-bangunan uniknya. Sampai sekarang, Venesia selalu masuk dalam daftar 10 tempat terindah yang ingin dikunjungi wisatawan berbagai negara (versi UNESCO World Heritage). Bukan tidak mungkin, jika ada pengelolaan yang benar dan sistem promosi yang tepat, maka Surabaya 10-20 tahun ke depan menjadi satu di antara tempat kunjungan wisata dunia karena pesona cagar budayanya. Jangan sampai Surabaya yang seharusnya dikenal sebagai kota Pahlawan dan identik dengan bangunan-bangunan bersejarahnya, berubah “hanya” menjadi kota jasa dan perdagangan.(*)

Source: Jawa Pos Online

Add comment May 22nd, 2008

Previous Posts


Calendar

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Posts by Month

Posts by Category