Archive for March, 2008
Suryalive | Karanganyar - Saat akam mengairi sawahnya, Tukimin, warga Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menemukan fosil yang diduga merupakan bagian tubuh gajah purba.
“Sebelumnya, Tukimin juga pernah menemukan fosil binatang purba di desa tersebut, seperti tanduk rusa, kepala kerbau, dan kaki kura-kura,” kata Iskandar, Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi (KIK) Kabupaten Karanganyar, Minggu (30/3).
Di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar selama ini dikenal sebagai kampung purba, dan secara bertahap akan diwujudkan sebagai museum lapangan. “Dengan adanya museum lapangan, setiap wisatawan yang datang ke daerah ini akan diajak oleh petugas museum ini untuk melihat dari dekat temuan berbagai fosil purba yang ada di wilayah setempat,” jelas Iskandar.
Pembangunan museum lapangan ini sudah mulai digarap oleh Pemkab Karanganyar, Pemerintah Pusat juga sudah menyetujui program pembangunan museum tersebut, katanya.
Pemkab Karanganyar sengaja membuat museum lapangan, lanjut Iskandar, bukan museum konvensional sebagaimana yang ada di Sangiran, dimana benda-benda purbakala di pajang dalam satu ruangan.
“Justru dengan museum lapangan ini masyarakat atau wisatawan yang datang ke lokasi dapat melihat langsung keindahan alam dan benda-benda purbakala yang tersebar di sejumlah kawasan di daerah ini,” katanya menjelaskan.
Ada empat titik (lokasi) penemuan fosil purbakala di Desa Dayu masing-masing meliputi fosil tengkorak manusia purba homo erectus berumur 1,8 juta tahun lalu, fosil kepala buaya dan kerbau purba dan peralatan manusia purba yang jumlahnya mencapai ratusan alat.
“Rumah-rumah warga yang masih bercorak tradisional juga akan dipertahankan. Semuanya ini dimaksudkan untuk mendukung wisata kepurbakalaan di daerah ini,” kata Iskandar. ant
Source: Surya Live
March 31st, 2008
Madiun (ANTARA News) - A whirlwind attack was reported to have destroyed at 200 houses in Pajaran village, Madiun district, East Java, on Saturday evening.
Two of the total damaged houses could no longer be used a shelter, as the whirlwind had levelled them down to the ground.
Beside damaging the houses, the whirlwind also uprooted some trees down, thus blocking the vehicle to pass certain roads.
Lamini (36), a resident in Pajaran village said the whirlwind came at a sudden and blowed so hard. She and members of her family immediately sought for a shelter to prevent them from the attack.
“At a sudden, anything went down. I and my husband including the children escaped from the rubble and went out of the house,” she said while sweeping her house of the rubbles.
According to her, when the whirlwind came, we could only save members of the family. All our belongings in the house were totally damaged.
“After the whirlwind subsided, the rain poured down heavily. All items in the house were damaged and wet by the rain,” she said.
Under the current condition, she only hoped for possible assistance from donators to enable her to renovate her damaged house.
In the meantime, Pepe village head Wagiono said based on the inventory data, it was recorded that there were 200 houses damaged by the whirlwind.
This was the first attack of the whirlwind which has damaged hundreds of houses, so that many residents panicked and went out to save themselve. However no casualties were reported, he said.
(*)
Source: ANTARA News
March 31st, 2008
SURABAYA - Kecantikan seutuhnya. Itulah ucapan Dr Harun MSi, kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jatim, kemarin (27/3). Harun mengatakan hal itu terkait dengan seleksi Puteri Indonesia tingkat provinsi yang ditutup pada 23 April mendatang.
Puteri Indonesia, ajang pemilihan putri tercantik dari seluruh negeri, ditujukan untuk perempuan berumur 18-25 tahun. Yang dicari bukan cuma yang cantik, tapi juga cerdas dan berpengetahuan luas.
Menurut Harun, itu merupakan tantangan besar. Apalagi, tahun lalu mahkota Puteri Indonesia diraih Putri Raemawasti, wakil Jatim.
Wisnuadji Purwono, ketua panitia, mengatakan bahwa yang terpilih harus terus belajar. “Ilmu itu kan berkembang,” katanya. Belajar itu pun tak cuma dilakukan di ruang karantina. “Belajar setiap hari, itu kuncinya,” tegas Wisnu.
Hanty Harijati, kepala Mustika Ratu Surabaya, mengatakan bahwa saat ini bukan wajah indo yang dicari. “Mereka yang berwajah etnik,” ujarnya. Jadi, tak perlu heran jika yang dilakukan terhadap Puteri Indonesia saat ini bukanlah program pemutihan. “Apa ya istilah yang tepat? Pencokelatan, mungkin,” ucap Hanti sambil tertawa. (dee/dos)
Source: Jawa Pos Online
March 28th, 2008
Sri Wahyuni, The Jakarta Post, Yogyakarta
Yogyakarta and the city’s landmarks have long fascinated many artists in creating their works.  |  Thu, 03/27/2008 12:08 AM |  Potpourri
The 61 works on display, comprising paintings, sculptures and graphic designs, were produced by 51 artists, mostly young ones.
Entitled Komedi Putar (Merry-Go-Round), the exhibition features works depicting merry-go-rounds and the famous Sekaten night market.
Such examples could be seen through Gintani Nur Apresia Swastika’s Effortless (silkscreen on canvas, fabric collage, 2008) depicting the scenery around one of the city’s old landmarks, the post office building.
Yogyakarta’s noted pedicab inspired Suharmanto to create Indahnya Tadi Malam (The Beauty of Last Night, oil and acrylic on canvas, 2007), which depicts a driver soundly sleeping in his pedicab.
Other city landmarks can be found in Giring Prihatyasono’s Menggendong Tradisi (Carrying Tradition), Solichin’s Menanti Rejeki (Waiting for Reward) and Mulyo Gunarso’s Hidup Semalam (One Night’s Life).
The exhibition’s curator, Mikke Susanto, told The Jakarta Post that Komedi Putar was selected as theme of the exhibition as it is being held concurrently with this year’s Sekaten night market.
The Sekaten night market is held annually in the month of Maulud, according to the Javanese calendar, or Rabi’ul Awwal according to the Islamic calendar (lunar calendar).
The Sekaten itself is a religious celebration held annually by the Yogyakarta Sultanate to celebrate the birth of Prophet Muhammad, which falls on the 12th day of Rabi’ul Awwal.
Mikke said Komedi Putar was also chosen since the merry-go-round has long been the icon of the night market. Aside from that, he said, a “merry-go-round” also implies that everything, including life, keeps rotating — sometimes up and down.
For the gallery, Mikke said, the theme carries both a poetic and political meaning. It is poetic in the sense that the city has many cultural marks to take note of and preserve.
“Like Sekaten, for example, we can make use of it to show the city’s image, romanticism and attractions,” Mikke said.
In term of politics, he added, through the visual arts exhibited, the gallery aims to open visitors’ eyes and minds to the great potential the city has to offer.
“The task of the artists here is expressing the ideas of beauty through their works of art. Members of the community, including the authorities, are free to make use of them as a new map of the city and do something about it.”
Source: The Jakarta Post
March 28th, 2008
SURABAYA - Sebuah suguhan untuk wanita aktif dengan seabrek aktivitas diperagakan di atrium Surabaya Town Square (Sutos) kemarin (26/3). Sejumlah gaun formal batik modifikasi hingga gaun-gaun cocktail yang catchy ditampilkan. Semuanya adalah koleksi lima microretail yang bergabung dengan nama Gravity.
Fashion show yang memeragakan sekitar 45 gaun tersebut merupakan rangkaian acara Ladies Day, Beauty and Fashion yang dipersembahkan tabloid wanita dewasa, Cantiq. Selain peragaan busana, para wanita juga disuguhi acara bazar, demo kecantikan, dan live music.
Mengambil tema panggung Broadway, gaun-gaun batik modifikasi berupa blus atasan dipadukan bawahan rok dan celana berwarna soft brown. Pada sesi kedua, giliran gaun-gaun cocktail dengan model-model ballgown yang ditampilkan.
Even tersebut memang dihadirkan hanya untuk wanita. “Agar wanita merasa dimanjakan dengan segala pernik-pernik wanita yang dipamerkan dalam rangkaian Ladies Day ini,” kata Hendra Mardhika dari bagian Event and Promotion Tabloid Cantiq. (ken/dos)
Source: Jawa Pos Online
March 27th, 2008
SURABAYA - Pembukaan pameran seni rupa Jansen Jasien bertajuk Tandjoeng Perak Tepi Laoet di Semanggi Room, Graha Pena Lt V, kemarin (25/3) terasa istimewa. Selain disaksikan sejumlah pengusaha dan seniman, peresmian dilakukan lima tokoh Surabaya sekaligus.
Lima tokoh itu adalah mantan Gubernur Jatim H M. Noer, Konjen Tiongkok di Surabaya Fu Shuigen, Chairman/CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, Kosul Kehormatan Hungaria J.R. Radjimin, dan Ketua Kadin Jatim Erlangga Satriagung. Hadir dalam acara tersebut, antara lain, Ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya Liem Oe Yen, mantan Ketua REI Jatim Teguh Kinarto, bos PT Sekar Alam Loddy Gunadi, penasihat Yayasan Seni Surabaya Kadaruslan, dan perupa Nug Asri.
Secara simbolis, pameran dibuka kelima tokoh itu dengan menorehkan cat minyak di atas kanvas yang kemudian diselesaikan Jasien dalam 20 menit. Suasana “Tanjung Perak” terasa sejak para undangan memasuki Semanggi Room. Seniman ludruk Supali bersama manajer Persebaya Indah Kurnia yang didaulat menjadi MC menyambut para tamu dengan menyenandungkan lagu Tanjung Perak Tepi Laut. Tak lama kemudian, Dahlan Iskan membacakan “puisi” gubahannya yang berkisah tentang Tanjung Perak seabad di kemudian hari.
“Seabad di kemudian hari/ Banyak wajah tidak berseri lagi/ Banyak lokasi berganti fungsi/ Banyak bayi tidak berpipi/ Tanjung Perak?/ Tidak di pinggir laut lagi/ Jadi Wonokromo/ Atau kawasan Darmo/ Lenyapkah Tanjung Perak?/ ’Tidak!’/ Tetap abadi/ Di dalam seni,” ungkap Dahlan dalam puisi tak berjudul itu.
Ketika giliran H M. Noer memberi sambutan, sejarah kebesaran pelabuhan Surabaya itu pun di-jlentereh-kan. Penggagas Jembatan Suramadu tersebut menambahkan bahwa Jawa Timur memerlukan pelabuhan lagi yang dia beri nama Tanjung Bumi. “Tanjung Bumi nanti ada di pantai utara Madura,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Konjen Tiongkok Fu Shuigen juga banyak membahas pentingnya sebuah pelabuhan untuk menyejahterakan rakyat. Dalam sambutan dalam bahasa Tiongkok yang diterjemahkan Konsul Kehormatan Hungaria J.R. Radjimin, Fu Shuigen berharap adanya jembatan yang melancarkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok.
Setelah seremonial selesai, para tamu kemudian diajak menyaksikan sekitar 40 lukisan ekspresionis Jansen Jasien yang dipajang di lobi Graha Pena. Yang hebat, begitu selubung lukisan masterpiece Jasien Monumen and Historical Building of Tandjoeng Perak dibuka, enam lukisan Jasien langsung “terbang” ke tangan para kolektor.
Tak berapa lama kemudian, Jasien beruntung lagi. Dua menteri yang berkunjung ke redaksi Jawa Pos menyempatkan untuk menyaksikan pameran lukisannya. Dua menteri itu adalah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Pertanian Anton Apriantono.
“Wah, saya wajib bersyukur. Orang-orang memberi apresiasi yang luar biasa kepada lukisan saya. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas penghargaan itu,” komentar Jasien.(dee/ari)
Source: Jawa Pos Online
March 26th, 2008
SURABAYA, Indonesia (Reuters) - A zoo in Indonesia’s second-largest city Surabaya has succeeded in hatching Komodo dragons, the largest living species of lizard, for a second time outside their natural habitat.
Komodo dragons are found only in eastern Indonesia, in Komodo island and several other islets in the Nusa Tenggara archipelago.
Fourteen Komodo dragon eggs were hatched in incubators at the zoo in Surabaya on the main Java island over the weekend, bringing to 41 the number of the reptiles in their collection. The zoo succeeded in hatching 13 eggs in the first attempt during the 1990s.
“We collected all the eggs in September 2007 from Komodo cages, and now 14 eggs have already hatched while one has failed to hatch,” Nur Ali Faisol, head of the animal nursery at the Surabaya zoo, told reporters.
The habitat of the Komodo dragons is extremely harsh as they live on arid volcanic islands with steep slopes and low rainfall.
The lizards are generally solitary animals except during the breeding season.
Baby Komodo dragons weigh about five ounces to six ounces (140-170 grams) each and when grown they can be more than three meters (10 ft) and weigh up to 100 kg (220 pounds). They have a very keen sense of smell to track and hunt down its prey.
The lizards regularly kill animals such as pigs and small deer and sometimes even adult water buffalo.
But they are opportunistic feeders and are prepared to eat anything they can attack — including small dragons and occasionally humans.
The saliva of the dragon has virulent bacteria that means even if its prey survives an attack it will probably die of infection later.
The life expectancy of a Komodo dragon is generally between 20 to 40 years and they are listed as endangered species. There are fewer than 5,000 of them still alive.
(Reporting by Reuters Television, Writing by Ahmad Pathoni; Editing by Sanjeev Miglani)
Source: http://uk.reuters.com/article/
March 25th, 2008
MEMPERINGATI maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) menggelar festival dan pameran yang digelar pada 27-30 Maret mendatang.
Beberapa festival yang digelar antara lain band religi dan musik gambus, audisi dai cilik, dan fashion show busana Islami. Sedangkan pameran meliputi buku dan produk UKM Jatim. Ada juga bedah buku, khitanan masal, dan jalan sehat.
Selain itu, MAS juga merancang sebuah konsep yang disebut Arab Street. Yakni, membuat suasana Timur Tengah di seputar MAS. “Konsep itu berbeda dari tahun sebelumnya,” kata humas MAS Helmi M. Noor kemarin.
Suasana Timur Tengah itu, lanjut Helmi, untuk memberikan balutan corak Arab dalam bentuk dekorasi. Misalnya, pohon kurma, penggunaan jubah, pemutaran lagu Arab, dan lain-lain. Arab Street dibikin di halaman depan masjid. Jalan tersebut akan berujung di panggung acara Festival Maulid 1429 Hijriah.
Sedangkan pameran buku, berada di kiri dan kanan pelataran masjid. Masing-masing diisi sekitar 30 stand. Stand-stand tersebut juga didesain gaya Timur Tengah. Area pameran itu dilengkapi ruang tunggu sekaligus sebagai taman baca bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu di lokasi masjid. Acara ditutup dengan ceramah Maulid yang akan disampaikan KH Agoes Ali Masyhuri. (eko/cfu)
Source: Jawa Pos Online
March 25th, 2008
SURABAYA - Kemarin (23/3) umat kristiani merayakan Paskah. Di gereja-gereja diadakan misa dan kebaktian menyambut kebangkitan Kristus tersebut. Beberapa hotel mengadakan pesta anak-anak, terutama yang terkait tradisi Paskah. Yaitu, lomba-lomba tentang telur.
Puluhan anak tampak sibuk menggoreskan cat air warna-warni pada telur Paskah setinggi setengah meter di poolside Hotel Sheraton. Telur raksasa itu pun terlihat berlepotan cat warna-warni. Tak sekadar mewarnai, beberapa anak juga menulis Happy Easter (Selamat Paskah).ÂÂ
Namanya anak-anak, goresan-goresan warna pada telur Paskah raksasa itu malah meluber ke mana-mana. Beberapa orang tua pun terlihat ikut-ikutan mengecat telur tersebut untuk memperbaiki hasil kreasi putra-putri mereka.
Seperti telur milik Bryan Mackenzie, kombinasi warna biru, merah, dan kuning dihiasi bintang-bintang berwarna merah muda tampak semarak. Tak lupa tulisan Happy Easter berwarna hitam tersemat di bagian tengah telur berdiameter 40 cm tersebut.
Sementara itu, lima puluh anak-anak kemarin berlomba mencari telur di Hotel Shangri-La. Mereka antusias mencari telur yang disembunyikan di teras Jamoo Restaurant. Begitu dikomando, anak-anak itu langsung bergerak cepat mencari. Tak jarang mereka berebut telur. “Aku duluan,” ujar seorang anak. Mereka hanya diberi waktu 30 detik untuk berburu. Ada pula yang menangis lantaran tak dapat telur.
Telur memang identik dengan Paskah. Sejatinya, itu adalah tradisi masyarakat Eropa kuno yang saling menghadiahkan telur saat perayaan musim semi. Dalam perjalanannya, tradisi tersebut sulit pupus lantaran Paskah selalu bersamaan dengan musim semi. Perayaan Paskah terus bersamaan dengan keceriaan dan kegembiraan meninggalkan musim dingin. Karena itu, tradisi saling memberi telur tersebut tak juga hilang. (dee/ken/dos)
Source: Jawa Pos Online
March 24th, 2008
Dua benda menyerupai manusia turun. Gending-gending Jawa mengalun mengikuti proses turunnya dua benda itu. Keduanya bukan manusia, melainkan boneka. Di belakang mereka ada seorang laki-laki yang melakukan persembahan. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan sarung bermotif kotak-kotak. Itulah lakon Teater Sinema, karya Teater Alif, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Pentas yang ditampilkan Sabtu (22/3) malam di Gedung Cak Durasim itu memadukan seni panggung dan film. (dee/dos)ÂÂ
Source: Jawa Pos Online
March 24th, 2008
Previous Posts